Kumpulan Cerita Sex dan Foto Telanjang

Kumpulan Cerita Sex dan Foto Telanjang

Agen Bola Online Terbaik Togel Online Terbaik
3 11 2017- 3 11 2018
29 10 2017- 29 01 2018 29 10 2017- 29 01 2018
 27 09  28 09
bandarq  bandarq
15 10 2017- 14 01 2018 Pasang Iklan
 agen bola  agen bola
bandarq bandarq
agen judi domino  Bola168 Agen Judi Bola, Bandar Bola, Agen Bola, Sbobet, Ibcbet
 Domino168 Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online, Sakong Online  ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

Cerita Sex Tes Dengan Lubang Para Tante

Foto sex Terbaru 2017

– Cerita Kita mulai dari Kisah yang aku alami diman aku mersakan tubuh wanita STW , disaat liburan sekolah sudah mulai aku mengisi waktu dengan piknik ke rumahnya sopir yang bekerja di rumahnya tetanggaku , dia bernacana untuk pulang kampung aku mendapat ijin dari orangtua untuk berlibur di kampungnya mas Jony. Dia juga ingin menjenguk istrinya di rumah.

Tepatnya daerah a]Jawa barat dia berkata bahawa di kampungnya banyak wanita yang cantik cantik dengan kulit yang putih dan mulus, karena penasaran yang tinggi aku ingin engetahui apa benar apa yang di katakan mA Jony tadi.

Dengan mobil pinjaman dari ayahku, kami berangkat ke sana. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya sekitar jam 17.00 WIB kami tiba di kampungnya. Rumah Mas Jony berada cukup jauh dari rumah tetangganya. Rumahnya cukup bagus, untuk ukuran di kampung, bentuknya memanjang.

di rumah Mas Jony kami disambut oleh Tante Laura, istrinya dan Tante Fely mertuanya. Ternyata Tante Laura, istri Mas Jony , seorang perempuan yang sangat cantik. Kulitnya putih bersih dan bodynya sangat sexy.

Sedangkan Tante Fely tak kalah cantiknya dengan Tante Laura. Meskipun sudah berumur empat puluhan, kecantikannya belum pudar. Bodynya tak kalah dengan gadis remaja. Oh ya, Tante Fely bukanlah ibu kandung Tante Laura.

Tante Fely kimpoi dengan Bapak Tante Laura, setelah ibu kandung Tante Laura meninggal. Tapi setelah lima tahun menikah, bapak Tante Laura yang meninggal, karena sakit. Jadi sudah sepuluh tahun Tante Fely menjanda.

Sekitar jam 20.00 WIB, Mas Jony mengajakku makan malam ditemani Tante Laura dan Tante Fely .

Sambil makan kami ngobrol diselingi gelak tawa. Walaupun kami baru kenal, tapi karena keramahan mereka kami serasa sudah lama kenal.

Selesai makan malam Mas Jony dan Tante Laura permisi mau tidur. Mungkin mereka sudah tak sabar melepaskan hasrat yang sudah lama tak tersalurkan. Tinggal aku dan Tante Fely yang melanjutkan obrolan. Tante Fely mengajakku pindah ke ruang tamu. Pas di depan kamar Mas Jony .

Saat itu Tante Fely hanya mengenakan baju tidur transparan tanpa lengan. Hingga samar-samar aku dapat melihat lekuk-lekuk tubuhnya yang sexy. Tante Fely duduk seenaknya hingga gaunnya sedikit tersingkap.

Aku yang duduk dihadapannya dapat melihat paha mulusnya, membangkitkan nafsu birahiku.

Penisku menegang dari balik celanaku. Tante Fely membiarkan saja aku memelototi paha mulusnya.

Bahkan dia semakin lebar saja membuka pahanya.

Semakin malam obrolan kami semakin hangat. Tante Fely menceritakan, semenjak suaminya meninggal, dia merasa sangat kesepian. Dan aku semakin bernafsu mendengar ceritanya, bahwa untuk menyalurkan hasrat birahinya, dia melakukan onani. Kata-katanya semakin memancing nafsu birahiku. Aku tak tahan, nafsu birahiku minta dituntaskan.

Akupun pergi kekamar mandi. Sampai di kamar mandi, kukeluarkan penisku dari balik celanaku.

Kukocok-kocok sekitar lima belas menit. Dan crot! crot! crot! Spermaku muncrat kelantai kamar mandi. Lega sekali rasanya.

Setelah menuntaskan hasratku, aku balik lagi ke ruang tamu. Alangkah terkejutnya aku. Disana di depan jendela kamar Mas Jony yang kordennya sedikit terbuka kulihat Tante Fely sedang mengintip ke dalam kamar, Mas Jony yang sedang bersetubuh dengan istrinya.

Nafas Tante Fely naik turun, tangannya sedang meraba-raba buah dadanya. Nafsu birahiku yang tadi telah kutuntaskan kini bangkit lagi melihat pemandangan di depanku. Tanpa berpikir panjang, kudekap tubuh Tante Fely dari belakang, hingga penisku yang sudah menegang menempel hangat pada pantatnya, hanya dibatasi celanaku dan gaun tidurnya.

Tanganku mendekap erat pinggang rampingnya. Dia hanya menoleh sekilas, kemudian tersenyum padaku. Merasa mendapat persetujuan, aku semakin berani. Kupindahkan tanganku dan kususupkan kebalik celana dalamnya. Kuraba-raba bibir vaginanya.

“Ohh… Fely … Enakk,” desahnya, ketika kumasukkan jari-jariku ke dalam lubang vaginanya yang telah basah. Setelah puas memainkan jari-jariku dilubang vaginanya, kulepaskan dekapan dari tubuhnya. Kemudian aku berjongkok di belakangnya.

Kusingkapkan gaun tidurnya dan kutarik celana dalamnya hingga terlepas. Kudekatkan wajahku ke lubang vaginanya. Kusibakkan bibir vaginanya lalu kujulurkan lidahku dan mulai menjilati lubang vaginanya dari belakang, sambil kuremas-remas pantatnya. Tante Fely membuka kedua pahanya menerima jilatan lidahku. Inilah vagina terindah yang pernah kurasakan.

“Oohh… Fely … Nik… mat,” suara Tante Fely tertahan merasakan nikmat ketika lidahku mencucuk-cucuk kelentitnya. Dan kusedot-sedot bibir vaginanya yang merah.

“Ohh… Fely … Luarr… Biasaa… Enakk… Sedott… terus,” pekiknya semakin keras.

Cairan kelamin mulai mengalir dari vagina Tante Fely . Hampir setiap jengkal vaginanya kujilati tanpa tersisa. Tante Fely menarik vaginanya dari bibirku, kemudian membalikkan tubuhnya sambil memintaku berdiri. Dia mendorong tubuhku ke dinding.

Dengan cekatan ditariknya celanaku hingga terlepas, maka penisku yang sudah tegang, mengacung tegak dengan bebasnya.

“Ohh… Luar biaassaa… Fely … Besar sekali,” serunya kagum.

“Isepp… Tante, jangan dipandang aja,” pintaku.

Tante Fely mengabulkan permintaanku. Sambil melepaskan gaun tidurnya, dia lalu berjongkok dihadapanku. Wajahnya pas di depan selangkanganku. Tangan kirinya mulai mengusap-usap dan meremas-remas buah pelirku. Sedangkan tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal penisku dengan irama pelan tapi pasti.

Mulutnya didekatkan kepenisku dan dia mulai menjilati kepala penisku. Lidahnya berputar-putar dikepala penisku. Aku meringis merasakan geli yang membuat batang penisku semakin tegang.

“Ohh… Akhh… Tan… Te… Nikk.. matt,” seruku tertahan, ketika Tante Fely mulai memasukkan penisku kemulutnya. Mulutnya penuh sesak oleh batang penisku yang besar dan panjang. penisku keluar masuk di mulutnya. Tante Fely sungguh lihai memainkan lidahnya. Aku dibuatnya seolah-olah terbang keawang-awang.

Tante Fely melepaskan penisku dari kulumannya setelah sekitar lima belas menit. Kemudian dia memintaku duduk dilantai. Dia lalu naik kepangkuanku dengan posisi berhadapan. Diraihnya batang penisku, dituntunnya ke lubang vaginanya.

Perlahan-lahan dia mulai menurunkan pantatnya. Kurasakan kepala penisku mulai memasuki lubang yang sempit. Penisku serasa dijepit dan dipijit-pijit. Mungkin karena sudah sepuluh tahun tidak pernah terjamah laki-laki. Meski agak susah, akhirnya amblas juga seluruh batang penisku ke dalam lubang vaginanya.

Tante Fely mulai menaik-turunkan pantatnya, dengan irama pelan. Diiringi desahan-desahan lembut penuh birahi. Sesekali dia memutar-mutar pantatnya, penisku serasa diaduk-aduk dilubang vaginanya. Aku tak mau kalah, kuimbangi gerakkannya dengan menyodok-nyodokkan pantatku ke atas. Seirama gerakkan pantatnya.

Oh, senangnya melihat penisku sedang keluar masuk vaginanya. Bibirku menjilati buah dadanya secara bergantian, sedangkan tanganku mendekap erat pinggangnya. Semakin lama semakin cepat

Tante Fely menaik turunkan pantatnya. Nafasnya tersengal-sengal. Dan kurasakan vaginanya berkedut-kedut semakin keras.

“Ohh… Fely … Aku… Mau… Keluarr,” pekiknya.

“Tahan… Tan… Te… Akuu… Belumm… Mauu,”sahutku.

“Akuu… Tak… Tahann… Sayang,” teriaknya keras.

Tangannya mencengkeram keras punggungku.

“Akuu… Ke… Ke… Luarr… Sayangg,” jeritnya panjang.

Tante Fely tak dapat menahan orgasmenya, dari vaginanya mengalir cairan yang membasahi seluruh dinding vaginanya.

Tante Fely turun dari pangkuanku lalu merebahkan tubuhnya dipangkuan. Kepalanya berada pas diselangkanganku. Tangannya mengocok-ngocok pangkal penisku. Dan mulutnya mengulum kepala penisku dengan lahapnya.

Perlakuannya pada penisku membuat penisku berkedut-kedut. Seakan-akan ada yang mendesak dari dalam mau keluar. Dan kurasakan orgasmeku sudah dekat. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya keselangkanganku. Hingga penisku semakin dalam masuk kemulutnya.

“Akhh… Tante… Akuu… Mau keluarr,” teriakku.

“Keluarin… Dimulutku sayang,” sahutnya.

Tante Fely semakin cepat mengocok dan mengulum batang penisku. Diiringi jeritan panjang, spermaku muncrat ke dalam mulutnya.

“Ohh… Kamu… Hebatt… Fely , aku puas,” pujinya, tersenyum ke arahku. Tanpa rasa jijik sedikitpun dia menjilati dan menelan sisa-sisa spermaku.

Suara ranjang berderit di dalam kamar, membuat kami bergegas memakai pakaian dan pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Kemudian masuk ke kamar Masing-masing. Beberapa menit kemudian kudengar langkah kaki Tante Laura ke kamar mandi.

Dari balik jendela kamarku dapat kulihat Tante Laura hanya mengenakan handuk yang yang dililitkan ditubuhnya. Memperlihatkan paha mulus dan tubuh sexynya. Membuatku mengkhayal, alangkah senangnya bisa bersetubuh dengan Tante Laura .

Sekitar jam 02.00 dinihari, aku terbangun ketika kurasakan ada yang bergerak-gerak di selangkanganku. Rupanya Tante Fely sedang asyik mengelus-elus buah pelirku dan menjilati batang penisku.

“Akhh… terus… Tante… terus,” gumanku tanpa sadar, ketika dia mulai mengulum batang penisku.

Dengan rakus dia melahap penisku. Sekitar sepuluh menit berlalu kutarik penisku dari mulutnya.

Kusuruh dia menungging, dari belakang kujilati lubang vaginanya, bergantian dengan lubang anusnya.

Setelah kurasa cukup, kuarahkan penisku ke lubang vaginanya yang basah dan memerah. Sedikit demi sedikit penisku memasuki lubang vaginanya. Semakin lama semakin dalam, hingga seluruh batang penisku amblas tertelan lubang vaginanya.

Aku mulai memaju mundurkan pantatku, hingga penisku keluar masuk lubang vaginanya. Sambil kuremas-remas pantatnya.

“Ooh… Fely … Nikk… Matt… Bangett,” rintihnya.

Aku semakin bernafsu memaju mundurkan pantatku. Tante Fely mengimbangi gerakkanku dengan memaju mundurkan juga pantatnya, seirama gerakkan pantatku. Membuat buah dadanya bergoyang-goyang. Semakin lama semakin cepat gerakkan pantatnya.

“Fely … Fely … Akuu… Tak… Tahann,” jeritnya.

“Akuu… Mauu… Ke… Keluarr,” imbuhnya.

Kurasakan vaginanya berkedut-kedut dan menjepit penisku. Tangannya mencengkeram dengan keras diranjang.

“Ooh… Oo… Aku… Keluarr,” lolongnya panjang.

Dan kurasakan ada cairan yang merembes membasahi dinding-dinding vaginanya. Tante Fely terlalu cepat orgasme, sedangkan aku belum apa-apa. Aku tak mau rugi, aku harus puas, pikirku. Kucabut penisku dari lubang vaginanya dan kuarahkan ke lubang anusnya.

“Akhh… Fely … Jangann… Sakitt,” teriaknya, ketika kepala penisku mulai memasuki lubang anusnya. Aku tak memperdulikannya. Kudorong pantatku lebih keras hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya.

Dan kurasakan nikmatnya jepitan lubang anusnya yang sempit. Perlahan-lahan aku mulai menarik dan mendorong pantatku, sambil memasukkan jari-jariku ke lubang vaginanya. Tante Fely menjerit-jerit merasakan nikmat dikedua lubang bawahnya.

“Enak khan Tante?” tanyaku.

“Hemm… Enakk… Banget… Sayang,” sahutnya sedikit tersipu malu.

Semakin lama semakin cepat kusodok lubang anusnya. Sambil kutepuk-tepuk pantatnya. Kurasakan penisku berkedut-kedut ketika orgasmeku akan tiba dan crott! crott! crott! Kutumpahkan spermaku dilubang anusnya.

“Penismu yang pertama sayang, memasuki lubang anusku,” katanya sambil membalikkan tubuhnya dan tersenyum padaku.

“Kamu luar biasa Fely , belum pernah kurasakan nikmatnya bersetubuh seperti ini,” imbuhnya.

“Tante mau khan, setiap malam kusetubuhi?” tanyaku.

“Siapa yang menolak diajak enak,” sahutnya seenaknya.

Sejak saat itu, hampir setiap malam kusetubuhi Tante Fely . Ibu tiri Tante Laurayang haus sex, yang hampir sepuluh tahun tidak dinikmatinya, sejak kematian suaminya.

Tak terasa sudah lima hari aku berada di rumah Mas Jony . Selama lima hari pula aku menikmati tubuh Tante Fely , mertuanya yang haus sex. Tante Fely yang sepuluh tahun menjanda, betul-betul puas dan ketagihan bersetubuh denganku. Meski telah berusia setengah baya, tapi nafsu birahinya masih meletup-letup, tak kalah dengan gadis remaja.

Sore itu, sehabis mandi dan berpakaian, Mas Jony mengajakku jalan-jalan. Katanya mau ketemu seorang teman yang sudah lama dirindukannya. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, sampailah kami di rumah teman Mas Jony .

Sebuah rumah yang berada dikawasan yang cukup elite. Kedatangan kami disambut dua orang wanita kakak beradik, Tante Kelin dan Tante Yenty. Keduanya sama-sama cantik dan sexy. Mas Jony memperkenalkanku pada kedua teman wanitanya.

“Mas Jony , aku kangen banget,” katanya sambil memeluk Mas Jony .

“Aku juga Rin,” sahut Mas Jony .

Sambil meminum kopi susu yang disuguhkan Tante Kelin , kami bercakap-cakap. Tante Kelin duduk dipangkuan Mas Jony . Dan Mas Jony merangkulnya dengan mesra. Tante Kelin tanpa malu-malu menceritakan, kalau Mas Jony adalah pacar pertamanya dan Mas Jony lah yang membobol perawannya.

Tante Yenty hanya tersenyum mendengar cerita kakaknya yang blak-blakan. Makin lama kelakuan

Tante Kelin makin mesra saja. Tanpa malu-malu, dia mengecup dan melumat bibir Mas Jony dan

Mas Jony menyambutnya dengan sangat bernafsu. Aku jadi risih menyaksikan kelakuan mereka.

Sekitar sepuluh menit mereka bercumbu di depan kami.

“Kita lanjutin di kamar aja say,” kata Tante Kelin pada Mas Jony . Mas Jony mengangguk tanda setuju, sambil membopong tubuh Tante Kelin ke dalam kamar.

“Kalian jangan ngintip ya,” kata Mas Jony pada kami sambil tersenyum.

Aku dan Tante Yenty hanya bengong melihat kemesraan mereka. Tanpa menghiraukan larangan Mas

Jony , Tante Yenty beranjak dari tempat duduknya sambil meraih tanganku menuju kamar Tante

Kelin . Kami kemudian berdiri di depan pintu kamar Tante Rina yang terbuka lebar.

Dari situ aku dan Tante Yenty melihat Mas Jony merebahkan tubuh Tante Kelin diatas ranjang dan mulai melepaskan gaun Tante Kelin . Aku terkesima melihat mulusnya dan sexynya tubuh Tante Kelin , ketika seluruh pakaiannya dibuka Mas Jony .

Nafsu birahiku tak tertahankan lagi, penisku menegang dibalik celanaku. Tanpa sadar kupeluk tubuh

Tante Yenty yang berdiri di depanku. Tante Yenty diam saja dan membiarkanku memeluknya. Malah tangan dibawa ke belakang dan disusupkan ke balik celanaku.

Mendapat perlakuan seperti itu, nafsuku semakin memuncak dan penisku semakin menegang.

Apalagi saat Tante Yenty menggerak-gerakkan tangannya mengocok-ngocok batang penisku.

Sementara di dalam kamar, Mas Jony menarik tubuh Tante Kelin ketepi Ranjang. Kedua paha Tante

Kelin dibukanya lebar-lebar. Maka terpampanglah vagina Tante Kelin yang indah, dihiasi bulu-bulu yang dicukur rapi. Mas Jony kemudian berjongkok dan mendekatkan mulutnya kebibir vagina Tante Kelin .

“Ohh… Say… Yang… Nikk… Mat,” Yenty Tante Kelin tertahan, ketika Mas Jony mulai menjilati vaginanya. Lidah Mas Jony menari-nari dan mencucuk-cucuk vagina Tante Kelin . Pantat Tante Kelin terangkat-angkat menyambut jilatan Mas Jony . Kedua pahanya terangkat dan menjepit kepala Mas Jony .

“Sudah… Say… Aku… nggak tahan… Masukin punyamu say,” pinta Tante Kelin penuh nafsu. Mas

Jony kemudian berdiri dan melepaskan semua pakaiannya.

Dengan sedikit membungkukkan badannya, Mas Jony memegang penisnya dan mengarahkannya ke lubang vagina Tante Kelin yang telah basah dan merah merekah. Slepp! Kepala penis Mas Jony  mulai memasuki vagina Tante Kelin .

“Aow… terus… Say… terus… Genjot,” seru Tante Kelin , ketika Mas Jony mulai mendorong pantatnya naik turun. Penisnya keluar masuk dari vagina Tante Kelin .

Melihat Mas Jony dan Tante Yenty sedang bersetubuh di depanku, membuat nafsu birahiku semakin tinggi. Kususupkan tanganku ke balik celana dalamnya. Dapat kurasakan vaginanya yang telah basah, pertanda Tante Yenty juga bangkit nafsu birahinya. Kucucuk-cucuk vaginanya dengan jari-jariku. Dia mendesah penuh nafsu.

Tante Yenty mengimbangi dengan semakin cepat mengocok-ngocok penisku. Sekitar sepuluh menit

Tante Yenty mengocok penisku. Tante Yenty kemudian menyudahi kocokkannya dan membalikkan badannya, menghadap ke arahku. Ditariknya celanaku hingga terlepas.

Setelah celanaku terlepas, keluarlah penisku yang tegang penuh dan mengacung-acung dengan bebasnya. Tante Yenty terpukau melihat penisku yang besar dan panjang. Tante Yenty kemudian berjongkok dikakiku, wajahnya berada pas di depan selangkanganku.

Tante Yenty mendekatkan mulutnya kebatang penisku. Mula-mula dia menjilati penisku dari kepala hingga pangkalnya. Terus dia mulai mengulum dan menghisap kepala penisku.

Kemudian sedikit demi sedikit batang penisku dimasukkannya ke dalam mulutnya sampai kepala penisku menyodok ujung mulutnya. Dan mulutnya penuh sesak oleh batang penisku. Dengan lihainya, Tante Yenty mulai memaju-mundurkan mulutnya, membuat penisku keluar-masuk dari dalam mulutnya. Mataku merem-melek merasakan nikmat dan badanku serasa panas dingin merasakan kulumannya.

Tante Yenty sangat lihai mengulum penisku. Kudorong maju pantatku dan kujambak rambutnya, membenamkan kepalanya ke selangkanganku. Sekitar lima belas menit berlalu Tante Yenty menyudahi kulumannya, dan melepaskan seluruh pakaiannya. Kemudian dia berdiri menghadap ke dinding.

“Oohh… Akhh… Akuu… nggak tahann… Fely ,” serunya tertahan.

“Entot aku… Entott… Fely ,” imbuhnya.

Kutarik sedikit tubuhnya dari belakang, hingga dia menungging. Kuraih batang penisku dan kuarahkan pas ke lubang vaginanya. Dan aku mulai mendorong maju pantatku, hingga kepala penisku masuk ke lubang vaginanya.

“Aow… Pelan-pelan Fely ,” pekiknya, ketika seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya yang masih sempit. Pekikkan yang keluar dari mulutnya membuatku semakin bernafsu dan pelan-pelan kumaju-mundurkan pantatku.

“Akhh… Enakk… Fely … Enakk… Banget,” desahnya sambil menoleh ke belakang sambil tersenyum padaku.

“Akhh… Akuu… Ke… luarr, Rin,” teriakkan Mas Jony dari dalam kamar mengejutkanku, namun tak menghentikan sodokkanku pada Tante Yenty .

“Aku… jugaa… Sayang,” sahut Tante Kelin pada Mas Jony .

Sedetik kemudian Mas Andra dan Tante Kelin mencapai orgasme bersamaan. Mas Jony menumpahkan spermanya di dalam vagina Tante Kelin . Kemudian Mas Jony merebahkan tubuhnya disamping tubuh Tante Kelin , dan tertidur pulas.

Sementara itu, aku semakin cepat memaju-mundurkan pantatku, membuat Tante Yenty berteriak-teriak saking nikmatnya. Kurasakan vaginanya berkedut-kedut semakin lama semakin cepat dan menjepit penisku.

“Fely … Fely … Akuu… Mauu… Keluarr,” teriaknya panjang.

“Tahann… Tante … Aku… Belum… Apa-apa,” sahutku.

“Akhh… Akuu… Tak… Tahan… Fely … Akuu,” jawabnya terputus dan vaginanya semakin keras menjepit penisku.

Tak lama kemudian Tante Yenty mencapai orgasme. Kurasakan ada cairan-cairan yang merembes didinding vaginanya. Kucabut penisku dari lubang vaginanya dan kusuruh dia berjongkok dihadapanku. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya keselangkangku.

Tante Yenty mengerti maksudku. Dia mulai menjilati dan menghisap-isap penisku lalu mengulumnya. Sambil tangan kirinya mengusap-usap buah pelirku.

Sedetik kemudian Tante Kelin datang membantu, dan langsung berjongkok dihadapanku. Lidahnya dijulurkan untuk menjilati buah pelirku. Tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal penisku.

Secara bergantian, kakak beradik, Tante Kelin dan Tante Yenty , mengocok-ngocok, menjilati dan mengulum penisku.

Penisku keluar dari mulut Tante Yenty kemudiam masuk ke mulut Tante Kelin , kemudian keluar dari mulut Tante Kelin lalu masuk kemulut Tante Yenty , begitulah seterusnya. Hingga kurasakan penisku berkedut-kedut.

“Tante … Akuu… Mauu… Ke… Keluarr,” jeritku.

“Keluarin di mulutku Fely ,” sahut mereka hampir bersamaan.

Dan crott! crott! crott! Spermaku muntah dimulut Tante Yenty yang sedang kebagian mengulum.

Tante Yenty menelan spermaku tanpa rasa jijik sedikitpun. Kemudian Tante Kelin merebut penisku dari Tante Yenty dan memasukkan ke mulutnya. Dan tak mau kalah dengan adiknya, sisa-sisa spermaku dihisap dan dijilatinya sampai bersih.

“Kamu puas Fely ,” kata Tante Yenty .

“Puas sekali Tante , Tante berdua luar biasa,” sahutku.

“Kamu mau yang lebih seru nggak,”kata Tante Kelin .

“Mau, mau Tante ,”sahutku.

Mereka kemudian mengajakku ke kamarnya, dimana Mas Jony sedang tertidur pulas sehabis bersetubuh dengan Tante Kelin . Tante Kelin menyuruhku tidur terlentang diranjang. Tante Kelin  kemudian menarik kakiku, hingga pantatku berada ditepi ranjang dan kakiku menjuntai kelantai.

Lalu Tante Kelin berjongkok dilantai dengan wajah berada pas di depan selangkanganku. Tante Kelin  mulai mengusap-usap dan mengocok-ngocok batang penisku yang masih layu, sehabis orgasme.

Kurasakan sedikit ngilu tetapi kutahan.

Tante Kelin menyudahi usapan dan kocokannya. Dan mulai menjilati dan menghisap-isap penisku dimulai dari kepala hingga pangkal penisku dijilatinya. Lidahnya berputar-putar dan menari-nari diatas batang penisku. Puas menjilati penisku, Tante Kelin kemudian memasukkan penisku ke mulutnya. Hampir seluruh batang penisku masuk kemulutnya.

Dan kurasakan sedikit demi sedikit penisku mulai menegang didalam mulutnya, hingga mulutnya penuh sesak oleh batang penisku yang sudah tegang penuh. Tante Kelin sangat pintar membangkitkan birahiku. Mulutnya maju mundur mengulum penisku. Pipinya sampai kempot, saking semangatnya mengulum penisku.

Melihat kakaknya yang sedang menjilati dan mengulum batang penisku, Tante Yenty nafsunya bangkit lagi. Dia meraba-raba dan memasukkan jari-jari tangan kirinya ke dalam vaginanya sendiri, sedangkan tangan kanannya meremas-remas buah dadanya hingga mengeras dan padat. Diiringi desahan-desahan penuh birahi.

Puas bermain-main dengan vagina dan buah dadanya sendiri, Tante Yenty kemudian naik ke atas tubuhku. Dan mengangkangi wajahku. Lubang vaginanya berada pas diatas wajahku. Dia menurunkan pantatnya, hingga bibir vaginanya menyentuh mulutku.

Kujulurkan lidahku untuk menjilati vaginanya yang telah basah. Kucucuk-cucuk dan kusedot-sedot klitorisnya, dia mengerang-erang merasakan nikmat. Tante Yenty menarik rambutku, membenamkan wajahku diselangkangannya. Kepalaku dijepit dengan kedua paha mulusnya.

Kini kami bertiga, aku dan kakak beradik sedang berlomba mencari kepuasan. Tante Yenty sedang kujilati vaginanya, sedangkan pada bagian bawah tubuhku Tante Kelin dengan asiknya mengulum batang penisku. Beberapa waktu berlalu Tante Kelin melepaskan kulumannya, dan berjongkok diatas selangkanganku.

Dengan tangannya, diraihnya batang penisku dan diarahkannya ke lubang vaginanya. Bless! Dengan sekali dorongan pantatnya, masuklah seluruh batang penisku ke dalam vaginanya yang basah tapi hangat.

Lalu Tante Kelin menaik turunkan pantatnya, sambil mengeluarkan desahan-desahan nikmat dari mulutnya. Sesekali pantatnya diputar-putar hingga penisku serasa dipelintir. Saat menikmati goyangan Tante Kelin , aku terus menjilati vagina Tante Yenty sambil memasukkan jari-jariku ke lubang anusnya. Sedang asiknya aku menjilati vagina Tante Yenty , kurasakan vaginanya berkedut-kedut.

Beberapa detik kemudian ada cairan yang keluar dari dalam vaginanya. Tante Yenty mencapai orgasme. Pahanya makin keras menjepit kepalaku. Tanpa rasa jijik kusedot dan kutelan cairan vaginanya.

Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, Vagina Tante Kelin juga berkedut-kedut, otot-otot vaginanya menegang.

“Ohh… Fely … Aku… Keluar,” teriak Tante Kelin .

Air maninya mengaliri deras dan membasahi batang penisku. Kemudian dia terkulai lemas sampingku. Membuat penisku yang masih tegang terlepas dan mengacung-acung.

Tante Yenty yang kondisi sudah pulih sehabis orgasme, kemudian berjongkok diatas selangkanganku, menggantikan kakaknya. diraihnya penisku dan diarahkannya ke lubang anusnya. Tante  Yenty menurunkan pantatnya sedikit demi sedikit hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya.

Kurasakan penisku seperti dijepit dan dipijit-pijit oleh sempitnya lubang snusnya.

“Oohh… Tante … Nikk… Matt… Enakk,”teriakku, ketika Tante Yenty mulai menaik turunkan pantatnya, membuat penisku keluar masuk dari lubang anusnya. Sesekali dia menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan, membuatku merasakan nikmat yang luar biasa. Sekitar tiga puluh menit Tante Yenty menggenjot tubuhku.

“Tante … Akuu… Ke… Keluarr,” jeritku.

Kurasakan penisku berkedut-kedut dan crott! crott! crott! kutumpahkan seluruh spermaku di dalam lubang anusnya. Tante Yenty kemudian merebahkan tubuhnya diatas tubuhku.

Sambil menindihku dia tersenyum puas. Malam itu, aku dan Mas Jony menginap disana. Dan berpesta sampai pagi, sampai kami sama-sama puas dan kelelahan.

Panasnya sinar matahari yang menerobos jendela kamarku, membangunkanku dari tidurku yang lelap. Setelah hampir semalam penuh aku merasakan nikmatnya bersetubuh dengan Tante Kelin dan

Tante Vera. Dan aku baru pulang dari rumahnya kerumah Mas Jony jam 05.00 dinihari.

Dengan sedikit bermalas-malasan, aku pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Selesai mandi badan rasanya segar sekali. Siang itu kurasakan lain dari biasanya, rumah Mas Jony tampak sepi sekali. Oh ya, aku baru ingat kalau hari ini, Mas Jony mengantar Tante Fely kondangan ke kampung sebelah. Jadi yang ada di rumah hanya Tante Wana dan Aku.

Dengan hanya mengenakan handuk yang kulilitkan dipinggangku, aku pergi ke dapur. Membuat secangkir kopi. Sampai didapur kudapati Tante Wana sedang mencuci piring.

“Pagi Tante ,” sapaku.

Tante Wana tak menjawab sapaanku. Mukanya cemberut. Aku heran, tumben Tante Wana begitu, biasanya dia sangat ramah padaku.

“Ada apa sih Tante , kok cemberut begitu,” tanyaku lagi.

“Tante marah sama aku? atau Tante nggak senang ya, aku disini,” imbuhku.

Tante Wana masih diam saja, membuatku tak enak hati dan bertanya-tanya dalam hati.

“Ok, Tante . Kalau Tante nggak senang, aku pulang aja deh,”

“Jangan-jangan pulang Fely , aku nggak marah sama kamu,” sahutnya sambil menarik tanganku.

“Habis Tante marah sama siapa? Boleh tahu kan Tante ?” tanyaku lagi.

“Ok, Tante akan kasih tahu, tapi jangan bilang sama siapa-siapa ya!,” jawabnya.

“Aku janji Tante ,” kataku meyakinkannya.

“Fely , aku lagi kesal sama Mas Jony ,” kata Tante Fely .

“Kesal kenapa Tante ,” selaku.

“Belakangan ini, Mas Jony dingin sekali padaku Fely ,” katanya sambil merebahkan kepalanya didadaku.

“Setiap aku pingin begituan, dia selalu menolak,” imbuhnya sambil tersipu malu.

“Mungkin Mas Jony lagi lelah Tante ,” hiburku sambil kuusap-usap rambutnya.

“Ah, masak setiap malam lelah,” sahutnya.

“Mungkin ada yang bisa aku bantu, untuk menghilangkan kekesalan Tante ,” pancingku.

Tante Wana tak menjawab pertanyaanku. Sebagai orang yang cukup berpengalaman soal sex, aku tahu

Tante Wana sangat kesepian dan menginginkan hubungan sexsual. Maka dengan memberanikan diri, kukecup lembut keningnya. Dan kurasakan remasan halus tangannya yang masih memegang tanganku.

Merasa mendapat respon positif, kugerakkan bibirku menciumi kedua pipinya dan berhenti dibelahan bibir mungilnya.

Tante Wana pun membalas kecupanku pada bibirnya dengan kuluman yang hangat, penuh gairah. kukeluarkan lidahku, mencari lidahnya. Kuhisap-hisap dan kusedot-sedot. Kulepaskan tanganku dari genggamannya dan kugerakkan menggerayangi tubuh Tante Wana . Dan perlahan-lahan kususupkan tangan kananku kebalik gaun tidurnya.

Dan kurasakan halusnya punggung Tante Wana . Sementara tangan kiriku meremas-remas pantatnya yang padat. Tante Wana melepaskan seluruh pakaiannya. Agar aku lebih leluasa menggerayangi tubuhnya.

Setelah semua terlepas maka terpampanglah pemandangan yang luar biasa. Dengan jelas aku bisa melihat buah dadanya yang montok, perutnya yang ramping dan vaginanya yang dicukur bersih.

Membuat nafsu birahiku semakin menjadi-jadi dan kurasakan penisku menegang. Akupun melepaskan kulumanku pada bibirnya dan dengan sedikit membungkukkan badanku. Aku mulai menjilati buah dadanya yang mulai mengeras, secara bergantian.

Puas menjilati buah dadanya, jilatanku kupindahkan ke perutnya. Dan kurasakan halusnya kulit perut

Tante Wana . Tante Wana tak mau ketinggalan, ditariknya handuk yang melilit dipinggangku. Dengan sekali sentakan saja, handukku terlepas.

“Aow, besar sekali Fely penismu,” decaknya kagum, sambil memandangi penisku yang telah menegang dan mengacung-ngacung setelah handukku terlepas. Tante Wana menggerakkan tangannya, meraih batang penisku. Diusap-usapnya dengan lembut kemudian dikocok-kocoknya, membuat batang penisku semakin mengeras.

Tak terasa sudah dua puluh menit berlalu, Kusudahi jilatanku pada perutnya. Kuangkat tubuhnya dan kududukkan diatas meja dapur. Kedua pahanya kubuka lebar-lebar. Dan terpampanglah di depanku bukit kecil yang dicukur bersih.

Bibir vagina yang memerah dengan sebuah daging kecil yang tersembul diatasnya. Kubungkukkan tubuhku dan kudekatkan wajahku ke selangkangannya. Dan aku mulai menjilati pahanya yang putih mulus, dihiasi bulu-bulu halus. Sambil tanganku meraba-raba vaginanya.

Beberapa menit berlalu, kupindahkan jilatanku dari pahanya ke vaginanya. Mula-mula kujilati bibir vaginanya, terus kebagian dalam vaginanya. Lidahku menari-nari didalam lubang vaginanya yang basah.

“Ohh… terus… Fely … terus… Nik… Matt,” serunya tertahan. Membuatku semakin bersemangat menjilati lubang vaginanya. Kusedot-sedot klitorisnya. Pantat Tante Wana terangkat-angkat menerima jilatanku. Ditariknya kepalaku, dibenamkannya pada selangkangannya.

“Ohh… Fely … Aku… Tak… Tahan… Masukin Fely … Masukin penismu,” pintanya menghiba.

Kuturuti kemauannya. Aku kemudian berdiri. Kuangkat kedua kakinya tinggi-tinggi, hingga ujung jari kakinya berada diatas bahuku. Kudekatkan penisku keselangkangannya. Tante Wana meraih penisku dan menuntunnya ke lubang vaginanya. Kudorong maju pantatku hingga kepala penisku masuk ke lubang vaginanya.

Aku diam sejenak mengatur posisi supaya lebih nyaman, lalu kudorong pantatku lebih keras, membuat seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya. Kurasakan penisku dijepit dan dipijit-pijit lubang vaginanya yang sempit. Vaginanya penuh sesak karena besarnya batang penisku.

“Aow… Pelan-pelan… Fely … penismu gede sekali,” pekiknya, ketika aku mulai memaju mundurkan pantatku, membuat penisku keluar masuk dari lubang vaginanya.

Tak terasa sudah tiga puluh menit aku memaju mundurkan pantatku. Dan kurasakan vagina Tante Wana berkedut-kedut. Dan otot-otot vaginanya menegang.

“Ohh… Fely … Aku… Keluarr… Sayang,” teriaknya lantang. Sedetik kemudian kurasakan cairan hangat keluar dari vaginanya. Dan Tante Wana mencapai orgasmenya. Tante Wana tahu kalau aku belum mencapai puncak kenikmatan. Dia turun dari atas meja dapur. Kemudian berjongkok dihadapanku. Diraihnya penisku dan dikocok-kocok dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya meremas-remas buah pelirku.

“Akhh… Tante … Enak… Nikk… Mat… terus,” seruku, ketika Tante Wana mulai menjilati batang penisku. Dari kepala hingga pangkal penisku dijilatinya. Mataku merem melek merasakan nikmatnya jilatan Tante Wana . Aku semakin merasa nikmat ketika Tante Wana memasukkan penisku ke mulutnya yang mungil. Dan mulai mengulum batang penisku.

Tante Wana memaju mundurkan mulutnya, membuat penisku keluar masuk dari mulutnya. Sementara tangannya mengocok-ngocok pangkal penisku.

“Oohh… Tante … Akuu… Tak… Tahan,” teriakku.

Dan kurasakan penisku berkedut-kedut semakin lama semakin cepat. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya diselangkanganku.

“Tante … Akuu… Ke… Luarr,” teriakku lagi lebih keras. Tante Wana semakin cepat memaju mundurkan mulutnya. Dan crott! crott! crott! penisku memuntahkan sperma yang sangat banyak di mulutnya. Tante Wana pun menelannya tanpa ragu-ragu. Dan tanpa rasa jijik sedikitpun dia menjilati sisa-sisa spermaku sampai bersih.

“Terimakasih Fely , kamu telah memberiku kepuasan,” pujinya sambil tersenyum.

“Sama-sama Tante , aku juga sangat puas,” sahutku.

“Tante masih mau lagi kan,” tanyaku.

“Mau dong, tapi kita mandi dulu yuk,” ajaknya.

Kemudian kami meraih pakaian masing-masing untuk selanjutnya bersama-sama pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Sehabis mandi, masih sama-sama telanjang, kubopong tubuhnya menuju taman disamping rumah. Aku ingin melaksanakan impianku selama ini, yaitu bersetubuh ditempat terbuka.

“Fely … Jangan disini sayang, nanti dilihat orang,” protesnya.

“Kan nggak ada siapa-siapa di rumah Tante ,” sahutku.

Tante Wana pun tidak protes lagi, mendengar jawabanku. Sambil berdiri kupeluk erat tubuhnya.

Kulumat bibirnya. Tante Wana membalas lumatan bibirku dengan pagutan-pagutan hangat. Cukup lama kami bercumbu, kemudian aku duduk dikursi taman. Dan kusuruh Tante Wana berjongkok dihadapanku. Tante Wana tahu maksudku.

Diraihnya batang penisku yang masih layu. Dielus-elusnya lembut kemudian dikocok-kocok dengan tangannya.

Setelah penisku mengeras Tante Wana menyudahi kocokkannya, dia mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Lidahnya dijulurkan dan mulai menjilati kepala penisku. Lidahnya berputar-putar dikepala penisku, kemudian turun kepangkalnya.

“Oohh… terus… Tante … Nikmat banget,” desahku.

“Isepp… Tante … Isep,” pintaku. Tante Wana menuruti kemauanku.

Dimasukkannya penisku kemulutnya. Hampir sepertiga batang penisku masuk ke mulutnya. Sambil tersenyum padaku, dia mulai memaju mundurkan mulutnya, membuat penisku maju keluar masuk dimulutnya.

“Tante … Aku… Tak… Tahan,” seruku. Tante Wana kemudian naik ke pangkuanku. Vaginanya pas berada diatas selangkanganku. Diraihnya penisku dan dibimbingnya ke lubang vaginanya. Tante  Wana  mulai menurunkan pantatnya, sedikit demi sedikit batang penisku masuk ke lubang vaginanya semakin lama semakin dalam.

Hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya. Sesaat kemudian Tante Wana mulai menaik turunkan pantatnya. Sesekali digoyang-goyangkan pantatnya kekiri-kekanan. Aku tak mau kalah, kusodok-sodokkan pantatku ke atas seirama dengan goyangan pantatnya.

“Ohh… Fely … Aku… Mauu… Ke… luarr,” teriaknya setelah hampir tiga puluh menit menggoyang tubuhku. Dan kurasakan otot-otot vaginanya menegang. Tangannya mencengkeram dadaku dengan keras. Sesaat kemudian kurasakan cairan hangat merembes dilubang vaginanya.

“Aku tak ingin mengecewakanmu Fely ,” katanya sambil tersenyum. Dia menarik penisku keluar dari lubang vaginanya, kemudian memasukkannya ke lubang anusnya. Tante Wana rupanya tahu kesenanganku.

Meski agak susah, akhirnya bisa juga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Perlahan tapi pasti Tante Wana mulai menaik turunkan pantatnya. Membuatku merasakan nikmat yang tiada taranya.

Cukup lama Tante Wana menggoyang-goyangkan pantatnya, kemudian kami berganti posisi. Kusuruh dia menungging, membelakangiku dengan tangan bertumpu pada kursi taman. Kugenggam penisku dan kuarahkan tepat ke lubang anusnya. Kudorong sedikit demi sedikit, sampai seluruhnya amblas tertelan lubang anusnya.

Lalu kudorong pantatku maju mundur. Kurasakan nikmatnya lubang anus Tante Wana . Sambil kucucuk-cucuk lubang vaginanya dengan jari-jariku. Membuat nafsu birahi Tante Wana bangkit lagi.

Tante Wana mengimbangi gerakkanku dengan mendorong-dorong pantatnya seirama gerakkan pantatku.

Aku semakin mempercepat gerakkan pantatku, ketika kurasakan akan mencapai orgasme. Demikian juga jari-jariku semakin cepat mencucuk vaginanya.

“Tante … Tante … Akuu… Mau… Keluar,” seruku.

“Akuu… Juga… Fely ,” sahutnya.

Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, kami mencapai orgasme. Kutarik penisku dari lubang anusnya, dan kutumpahkan spermaku dipunggungnya. Tante Wana kemudian membalikkan badannya dan berdiri, sambil memintaku duduk kursi taman.

Didekatkannya selangkangannya kewajahku. Ditariknya rambutku dan dibenamkannya kepalaku keselangkangannya. Dan akupun mulai menjilati vaginanya sambil duduk. Kuhisap dan kusedot-sedot cairan hangat yang keluar dari lubang vaginanya. Tante Wana sangat puas dengan perlakuanku.

Hari itu kami melakukan persetubuhan sampai puas, dengan berbagai macam gaya. Sungguh luar biasa Tante Wana , meskipun tinggal dikampung. Tapi dalam soal bersetubuh dia tak kalah dengan orang kota. Memang sungguh nikmat istri Mas Jony . Vagina dan lubang anusnya sama nikmatnya. Membuatku ketagihan menyetubuhinya.

Tak terasa sudah satu bulan aku berlibur dikampung Mas Jony . Malam-malam yang kulewati bersama Tante Wana dan Tante Fely membuat waktu satu bulan terasa cepat sekali. Sudah saatnya aku kembali kekotaku, karena tiga hari lagi aku harus ke sekolah.

Saat berangkat dari kampung Mas Jony , aku tidak sendirian. Ada Yenty , anak kandung Tante Fely menemaniku. Gadis cantik berkulit putih dan bertubuh langsing ini, baru tamat SMP dan akan melanjutkan SMU di kota. Tante Fely meminta tolong padaku agar mengantarkan Yenty , mencari rumah kost di dekat sekolah.

Dengan menempuh dua jam perjalanan, sampailah kami di kota. Dan setelah berpuar-putar cukup lama, akhirnya kudapatkan rumah kost untuk Yenty . Pemilik rumah adalah seorang janda cantik berusia sekitar 32 tahun, namanya Yeni. Setelah memberikan kunci kamar pada Yenty , Tante Yeni meninggalkan kami berdua.

Sehabis membantu Yenty mengangkat barang-barangnya ke dalam kamar, aku merasa haus. Kusuruh

Yenty ke warung untuk membeli minuman. Sambil duduk menunggu kedatangan Yenty , iseng-iseng kunyalakan VCD. Ngawur aja kusetel salah satu film. Aku terkejut, ternyata isinya film porno.

Adegan-adegan difilm itu, membangkitkan nafsu birahiku. Kurasakan batang penisku mengeras dan berdiri tegak di balik celanaku. Kuturunkan celanaku, dan kukeluarkan batang penisku. Kuelus-elus dan kukocok-kocok batang penisku. Saking asiknya aku mengocok-ngocok batang penisku, sampai kedatangan Yenty tak kurasakan.

“Mas, Fely lagi ngapain,” suara Yenty mengejutkanku.

“Akh, nggak ngapa-ngapain,” sahutku.

“Itu apa?” tanyanya lagi sambil memandangi celanaku.

Astaga! Aku lupa menaikkan celanaku. Sehingga Yenty dengan jelas melihat penisku yang sedang berdiri tegak. Merasa sudah kepalang basah, kulanjutkan saja mengocok penisku.

“Kamu bisa membantuku Yenty ?,” tanyaku.

“Bantu apa Mas?,” katanya balik bertanya.

“Kocokkin penisku Yenty ,” pintaku.

Yenty menganggukkan kepalanya tanda setuju. Kutarik tangannya dan kuletakkan diatas penisku.

Yenty yang juga sudah terangsang akibat ikut nonton film porno, menggenggam batang penisku.

Dengan lembut dia mengelus-elus dari kepala sampai kepangkal penisku. Aku merasa seperti melayang.

Aku melepaskan seluruh pakaianku sambil memeluk tubuh Yenty yang sedang mengocok penisku.

Kutarik kaosnya dan kususupkan tanganku kebalik BHnya. Kuraba-raba buah dadanya. Perlahan-lahan buah dadanya mengeras.

Cukup lama aku meraba-raba buah dadanya, kemudian kutarik Bhnya hingga terlepas. Setelah terlepas, terlihatlah buah dadanya yang padat dan mengeras. Aku melanjutkan lagi meremas-remas buah dadanya. Yenty mendesah-desah merasakan nikmat, tangannya semakin cepat mengocok penisku.

Sekitar lima belas menit berlalu kami berganti posisi. Sambil menarik rok mininya, kodorong tubuhnya hingga terlentang diranjang. Hanya celana dalamnya saja yang melekat menutupi selangkangannya. Kutindih tubuhnya dari atas lalu kukecup bibirnya, kujulurkan lidahku mengisi rongga mulutnya yang terbuka. Yenty menyambutnya dengan hisapan yang tak kalah hebatnya.

Setelah cukup lama berpagutan, kuputar tubuhku. Membentuk posisi 69. Selangkanganku berada diatas wajahnya, sedangkan selangkangannya berada dibawah wajahku. Kujulurkan lidahku menjilati bagian bawah perutnya, sambil tanganku melepas celana dalam Yenty .

Yenty mengangkat pantatnya memudahkan aku melepaskan celana dalamnya dan meleparkannya ke lantai kamar. Lidahku bergerak turun menyapu bibir vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu tipis.

“Ohh… Mas Fely … Enakk,” desahnya ketika aku mulai menjilati vaginanya yang basah, membuatku semakin bersemangat menjilati vaginanya. Kucucuk-cucuk dan kusedot-sedot klitorisnya yang sebesar biji kacang.

Saat aku menjilati lubang vaginanya, Yenty juga sedang asyik menjilati penisku. Sambil tangan kirinya mengocok-ngocok pangkal penisku sedangkan tangan kanannya mengelus-elus buah pelirku dengan lembut. Sesaat kemudian Yenty memasukkan penisku ke mulutnya. Hampir seluruh batang penisku masuk ke mulutnya. Kudorong pantatku ke atas dan ke bawah, sehingga penisku keluar masuk dimulutnya.

Tak terasa sudah dua puluh menit berlalu. Aku bangkit dan berdiri dilantai kamar. Kutarik tubuhnya, hingga pantatnya berada ditepi ranjang. Kedua pahanya kubuka lebar-lebar. Kuarahkan penisku tepat ke lubang vaginanya.

“Ja… Jangan… Mas, aku masih perawan,” katanya.

Aku tak memperdulikan kata-katanya. Kudorong maju pantatku hingga kepala penisku menyeruak masuk. Yenty berteriak lebih keras ketika aku mendorong lebih keras dan penisku menembus selaput daranya.

Akupun lebih bersemangat mendorong pantatku dan amblaslah seluruh batang penisku ke lubang vaginanya yang sangat sempit. Penisku serasa dijepit sempitnya lubang vaginanya. Beberapa detik kubiarkan penisku di dalam vaginanya.

Kupandangi wajahnya yang meringis menahan sakit. Dengan perlahan-lahan kuangkat pantatku lalu kuturunkan lagi. Membuat penisku keluar masuk dilubang vaginanya. Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Beginikah rasanya menyetubuhi seorang perawan.

“Ohh… Mas… Enakk,” desahnya yang mulai merasakan

Nikmatnya disetubuhi. Pantatnya digerakkan naik turun seirama gerakkan pantatku. Rasa sakitnya telah hilang berganti dengan rasa nikmat. Sekitar tiga puluh menit berlalu, kurasakan vaginanya berkedut-kedut dan otot-otot vaginanya menegang. Tangannya mencengkeram seprei dengan keras.

“Ohh… Mas… Akuu… Mauu,” desahnya terputus.

“Mau keluar sayang,” sahutku.

Yenty mengangguk sambil tersenyum.

“Aku juga Yenty ,” imbuhku. Semakin cepat kudorong-dorong pantatku.

“A… Akuu… Ke… Luarr,” teriaknya lantang.

Kurasakan cairan hangat merembes didinding vaginanya. Sedetik kemudian kurasakan penisku berkedut-kedut. Dan Crott! crott! crott! Kutumpahkan sperma yang sangat banyak dilubang vaginanya. Dan tubuhku ambruk menindih tubuhnya.

“Kamu menyesal Yenty ,” tanyaku sambil tersenyum puas, karena baru kali ini aku menyetubhi seorang perawan.

“Nggak Mas, semua sudah terjadi,” sahutnya.

“Kamu mau lagi khan,” godaku. Yenty tersenyum padaku, senyum penuh arti.

Kira-kira satu jam kami tertidur. Akupun terbangun dan bergegas ke kamar mandi membersihkan badan. Mengingat kejadian tadi, bersetubuh dengan Yenty , membuat nafsu birahiku bangkit lagi. penisku yang tadi telah layu, kini tegang dan mengeras. Setelah mengelap tubuhku dengan handuk akupun bergegas ke kamar, dimana Yenty sedang tertidur pulas. Dan ia terbangun ketika aku lagi asyik menjilati lubang vaginanya.

“Oh… Mas… Apa yang kamu lakukan,” tanyanya.

“Aku pingin setubuhi kamu lagi sayang,” sahutku sambil tersenyum.

Yenty membuka kedua pahanya lebar-lebar, sehingga aku lebih leluasa menjilati vaginanya. Beberapa menit berlalu kusuruh dia menungging. Aku mengambil posisi dibelakangnya. Dari belakang, aku menjilati lubang anusnya, sambil tanganku mencucuk-cucuk lubang vaginanya.

Setelah kurasa cukup, kuarahkan penisku ke lubang vaginanya. Dan aku mulai mendorong maju pantatku. Sedikit demi sedikit penisku masuk ke lubang vaginanya. Semakin lama semakin dalam penisku memasukinya, sampai seluruhnya amblas, tertelan lubang vaginanya. Akupun mendorong pantatku maju mundur, membuat penisku keluar masuk dari lubang vaginanya.

“Ohh… Nikk… Matt… Mas… Enakk,” jeritnya tertahan. Sekitar tiga puluh menit berlalu, kutarik penisku dari lubang vaginanya hingga terlepas. Kemudian kugenggam penisku dan kuarahkan ke lubang anusnya.

“Jangan, Mass sakitt, ja… “jeritnya sambil meringis. Belum habis dia bicara, kudorong pantatku dengan keras. Dan Bless! Seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Kukocok lubang anusnya dengan irama pelan semakin lama semakin cepat, sambil tanganku mencucuk-cucuk lubang vaginanya. Dan Yenty pun merasakan sensasi yang luar biasa dikedua lubangnya. Jeritan-jeritannya berganti dengan desahan-desahan nikmat penuh nafsu.

Aku semakin bersemangat mendorong-dorong pantatku, ketika kurasakan akan mencapai orgasme.

Sepuluh menit kemudian penisku menyemburkan sperma didalam anusnya. Dan tak lama berselang

Yenty menyusul, tubuhnya mengejang hebat. Kemudian Yenty terkulai lemas dan tertidur.

Aku kemudian berdiri dan mengenakan celanaku. Saat aku akan mengambil handuk ke dalam almari, tanpa sengaja aku menoleh keluar jendela.

Samar-samar aku melihat sesosok bayangan wanita yang sedang berdiri dibalik jendela kamar.

Rupanya orang itu sedang mengitip aku dan Yenty yang sedang bersetubuh dari balik korden yang lupa aku tutup.

Saat aku keluar mencarinya, wanita itu bergegas pergi. Aku membuntuti wanita itu. Melihat potongan tubuhnya dari belakang aku yakin kalau wanita itu adalah Tante Yeni, ibu kostnya Yenty . Dan aku keyakinanku semakin kuat, saat wanita itu masuk kekamar tidur Tante Yeni dan langsung menutup pintu. Aku berjalan mendekat dan berdiri di depan pintu kamarnya.

Aku mengintip dari lubang kunci. Dan memang benar, wanita yang tadi mengintipku adalah Tante

Yeni. Sampai didalam kamar Tante Yeni melepaskan seluruh pakaiannya. Aku terkesima melihat tubuh Tante Yeni yang putih mulus dan sexy, meski sudah berumur sebaya ibuku.

Membuat jantungku berdetak kencang. Nafsu birahiku yang baru saja tersalurkan bersama Yenty , perlahan-lahan bangkit lagi.

Pemandangan selanjutnya lebih seru lagi. Tante Yeni merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan kedua kaki terbuka lebar-lebar, memperlihatkan indahnya bentuk vaginanya. Tante Yeni meremas-remas buah dadanya sendiri dengan tangan kirinya.

Perlahan buah dadanya mulai mengeras. Sedangkan tangan kanannya meraba-raba selangkangannya.

Desahan-desahan nikmat keluar dari bibirnya, membuatku semakin tak tahan. Batang kemaluanku sudah berdiri tegak.

Dengan sangat hati-hati, aku membuka pintu kamarnya. Dan ternyata tidak terkunci. Sambil melepaskan celanaku, aku berjalan mengendap-endap mendekatinya. Tante Yeni yang sedang asyik meraba-raba tubuhnya sendiri, tidak tahu kalau aku masuk ke kamarnya.

Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menindihnya. Tante Yeni sangat terkejut melihat kehadiranku.

Aku segera menyumpal mulutnya yang sedang Terbuka saat dia hendak berteriak dengan mulutku.

Dan aku langsung melumatnya.

Tante Yeni yang sedang dirasuki nafsu birahi, membalas lumatanku dengan pagutan-pagutan yang tak kalah hebatnya.

Cukup lama aku melumat bibirnya, kemudian aku menjilati lehernya, terus turun ke buah dadanya yang sudah mengeras. Kedua buah dadanya aku jilati secara bergantian, membuat desahannya semakin keras.

Aku menyudahi jilatanku pada kedua buah dadanya, kemudia aku berlutut ditepi ranjang, diantara kedua kakinya. Tanganku yang nakal mulai meraba-raba bibir vaginanya yang dicukur bersih.

Tanpa berfikir lama, aku menjulurkan lidahku, menjilati, menghisap dan sesekali kumasukkan lidahku ke lubang vagina Tante Yeni dan lidahku menari-nari di dalam lubang vaginanya. Tante Yeni mengangkat-angkat pantatnya, menyambut jilatanku. Rintihan-rintihan kecil keluar dari mulutnya setiap kali lidahku menghujam lubang vaginanya.

Disaat dia sedang menikmati jilatanku, aku memasukkan jari-jariku ke dalam lubang vaginanya.

Sambil sesekali aku menjilati lubang anusnya. Tante Yeni sangat menikmati perlakuanku, dia menekan kepalaku dan membenamkannya diselangkangannya.

Sepuluh menit berlalu, aku menyudahi jilatanku. Aku kemudian berdiri, sambil menarik pinggulnya ketepi ranjang, kedua kakinya kubuka lebar-lebar. Tanpa membuang waktu lagi, batang kemaluanku yang sudah tegang dari tadi langsung kuhujamkan ke lubang vaginanya.

Tante Yeni menjerit saat batang kemaluanku yang besar dan panjang menerobos masuk ke lubang vaginanya. Aku merasakan jepitan bibir vaginanya yang begitu seret. Aku mulai menggerakkan pantatku maju mundur. Tante Yeni sangat menikmati setiap gerakkan pantatku, dia menggeliat dan mendesah disetiap gerakan kemaluanku keluar masuk dari lubang vaginanya.

Aku semakin mempercepat memaju mundurkan pantatku saat Tante Yeni memperlihatkan tanda-tanda orang yang mau orgasme.

“Ohh.., Fely .., akuu.., mau.., keluarr,” jeritnya cukup keras. Tante Yeni menggelinjang hebat, kedua pahanya menjepit pinggangku. Rintihan panjang keluar dari mulutnya saat klitorisnya memuntahkan cairan kenikmatan.

Aku merasakan cairan hangat yang meleleh disepanjang batang kemaluanku. Aku membiarkan Tante

Yeni beristirahat sambil menikmati orgasmenya. Setelah Tante Yeni berhasil menguasai dirinya, tanpa membuang waktu lagi aku membalikkan tubuhnya dalam posisi menungging.

Lalu aku menciumi pantatnya. Tante Yeni mengeliat menahan geli saat lidahku menelusuri vagina dan anusnya. Kemudian aku meludahi lubang anusnya beberapa kali. Setelah kurasakan daerah itu benar-benar licin, aku membimbing batang kemaluanku dengan tangan kiriku sementara tangan kananku membuka lubang anusnya.

Tante tak bereaksi apa-apa dan membiarkan saja apa yang kulakukan. Perlahan kudorong pantatku.

Tante Yeni merintih sambil menggigit bibirnya menahan rasa perih akibat tusukan kemaluanku pada lubang anusnya yang sempit. Setelah beberapa kali mendorong dan menarik akhirnya seluruh batang kemaluanku masuk ke lubang anusnya.

Sambil menikmati jepitan lubang anusnya, aku mendiamkan sebentar batang kemaluanku disana untuk beradaptasi. Tante Yeni menjerit saat aku mulai menghujamkan kemaluanku. Tubuhnya terhentak-hentak ketika sodokkanku bertambah kencang dan kasar. Sambil terus meningkatkan irama sodokkan, tanganku dengan kasar mencucuk-cucuk lubang vaginanya.

Akibat menahan sensasi nikmat ditengah-tengah rasa ngilu dan perih pada kedua lubang bawah tubuhnya, Tante Yeni sampai menangis. Setiap kali aku menyodokkan kemaluanku ke lubang anusnya, dia mengaduh namun dia tak mau aku menyudahinya. Sampai akhirnya kurasakan suatu perasaan yang sangat nikmat mengaliri sekujur tubuhku.

Aku mengerang panjang, saat mengalami orgasme yang pertama. Tanganku mencengkeram keras pantatnya. Aku menumpahkan seluruh spermaku didalam lubang anusnya. Tubuhku menegang beberapa saat, kemudian terkulai lemas. Tak lama kemudian Tante Yeni menyusul, dia mengeram sambil tangannya mencengkeram bantal kuat-kuat. Cairan hangat dan kental meleleh dari lubang vaginanya.

Dengan nafas yang masih memburu dan tubuh yang masih lemas, Tante Yeni bangkit kemudian duduk ditepi ranjang. Dia meraih batang kemaluanku lalu memasukkan ke mulutnya. Tante Yeni menjilati sisa-sisa sperma yang masih blepotan dibatang kemaluanku sampai bersih tanpa tersisa setetespun. Tante Yeni tersenyum puas merasakan nikmat yang sudah cukup lama tidak dirasakannya, sejak dia bercerai dengan suaminya.

Tanpa malu-malu dia meminta aku agar menyutubuhinya lagi. Aku menuruti permintaannya, kami
bersetubuh sampai pagi. Sampai kami benar-benar kelelahan. Pagi-pagi sekali aku meninggalkan

Tante Yeni yang masih tidur tanpa busana dan masuk kekamar Yenty .

Dimana Yenty juga sedang tidur pulas. Aku mengenakan seluruh pakaianku, kemudian pergi tanpa pamit. Meninggalkan kenangan-kenangan nikmat untuk mereka berdua. Sekali waktu aku mengunjungi Tante Yeni dan Yenty untuk menikmati lagi tubuh mereka….TAMAT.

Updated: Juni 4, 2017 — 12:27 pm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *